Header Ads Widget

Responsive Advertisement

SOSOK MISTERIUS

 


Semburat lembayung mengantarkan  gelapnya malam kelam yang tertutup oleh saputan halimun  hingga tak ada bintang gemintang yang terlihat dilangit, wanita paruh baya itu duduk termenung di beranda gubuk sederhanya. Dari sorot matanya yang memandangi langit mendung dimalam hari, aku melihat kepedihan perasaannya yang semakin galau  saat ini. Samudera duka menyelimuti lubuk hati wanita itu. Lima  tahun berlalu, ia hidup sendirian di gubuk sederhana.

 

Dan wanita itu aku. Aku mungkin bisa disebut orang baru dalam perkampungan ini. Perkampungan yang jauh dari hiruk pikuknya  kota, yang bahkan hanya sedikit mendapatkan sentuhan aliran listrik. Hanya bangunan-bangunan tertentu saja yang mendapat aliran listrik, seperti balai desa dan masjid kampung. Untuk ke kota saja, penduduk  harus berjalan 10 kilometer untuk sampai di stasiun kecil menuju stasiun kota kabupaten.

 

Lima tahun aku tinggal di kampung pedalaman ini, aku tak pernah berpikiran untuk kembali ke kota. Karena jika aku memutuskan untuk kembali ke kota itu sama artinya dengan aku kembali dengan masa laluku yang kelam. Masa laluku yang penuh dengan gelimang dosa. Masa laluku yang penuh dengan sederet problematika  yang tak kunjung reda.

 

Sebenarnya aku pergi ke kampung ini bukan memiliki maksud khusus untuk mengabdi misalnya atau apapun namanya. Aku pergi ke kampung ini hanya untul mengikuti tujuan otakku  yang tak ada sedikitpun sentuhan nuraniku saat itu, ‘pergi dari rumah sejauh-jauhnya’, itu saja. Dan sampailah aku di kampung pedalaman ini, kampung yang bahkan sinyal tidak bisa dijangkau sekalipun kau menaiki bukit dan pegunungan dipucuk hutan sana.

 

Sebentar itu aku tinggal di kampung ini, aku bisa mulai terbiasa akan keadaan kampung ini. Kampung yang penduduknya ramah dan leluhur-leluhur di kampung ini  sangat menanamkan arti kebersamaan, kegotongroyongan, keguyupan dan sejuta makna tentang persaudaraan, persahabatan dan kearifan lokal.

 

“Uhuk…huk..uhuk..”, tanpa sadar aku telah meminum ampas kopi malam ini yang membuat aku tersedak. Rupanya kopinya sudah habis. Aku kembali memandang gubuk kecil di depanku , gubuk yang dihuni suami isteri yang selalu mengingatkan masal laluku dan terus membayangi aku ketika sudaut pandangku tertuju gubuk itu. Malam itu rupanya membangkitkan akan deretan ceritaku yang tak pernah berujung. Sepertinya sudah lama sekali aku memikirkan masa laluku. Terbesit ketika wanita di gubuk itu  tiba-tiba masuk dan suara pintu yang tertutup itu membuyarkan lamunanku, yang sesaat menjeda kegalauanku.

 

Aku segera masuk rumah karena udara malam yang semakin dingin menembus pori-pori kulit. Aku merenggangkan tubuhku diatas ranjang dan menutupi badanku dengan kemul kusut. Terlentang dengan asa yang semakin menjulang. Aku berpikir sesuatu, yang membuat hatiku mulai bergejolak meregang himpitan-himpitan masalah yang semakin merangsek ke hati sanubariku.

 

Lima tahun silam selalu menghatui bayangan ilusiku terbersit cerita yang tak pernah berujung bahagia. Lima tahun silam itu masih terus terngiang dalam benakku.
“Aku tidak akan bisa memaafkanmu!”, wanita itu mendorong seorang lelaki ke ambang pintu.
“Kau membunuh darah dagingmu sendiri! Akal sehatmu ditaruh mana hah?!

Dimana otak yang kau gunakan untuk bekerja mendapatkan uang? Dimana perasaan yang kau gunakan untuk menyayangi, Watik? Apa kau tidak bisa menyayangi, Sari? Pergi dari rumah ini!” Wanita itu masih memaki-maki lelaki itu. Dan lelaki itu hanya bisa termangu dalam diam, dan dengan tampang pucat pasi  menunduk.

 

“Mengapa kau diam saja? Kau tak berani menjawab? Apa gunanya kau menjadi seorang ayah jika membunuh anakmu sendiri?”, wanita itu besungut-sungut dengan muka merah padam.

“ITU KARNA SARI BUKAN DARAH DAGINGKU! SARI ADALAH DARAH DAGING LELAKI LAIN!”, timpal lelaki itu setelah mengumpulkan alasan untuk menjawab.

 

“Kau… Tutup mulutmu! Tutup harimaumu itu! Sari itu anakku!”, jawab wanita itu sambil terisak.

 

“Dia anakmu, tapi bukan anakku!”

“Lantas apa artinya janji-janji kau dulu yang ingin menyanyangi anakku?”

“AKU MURKA DENGAN ANAKMU!” jawaban lelaki itu terdengar seperti perasaan amarah yang telah dipendam dalam hatinya sejak lama.

 

GLEGAAAAAR!!! Suara petir membangunkanku dari mimipi burukku. “Mimpi….itu hanya mimpi. Mimpi yang berkisah masa laluku, yang terus menerus selalu mengejarku.”

Adzan subuh berkumandang dari masjid kampung. Aku berusaha bangun dan bergegas mengambil air suci untuk berwudhu. Menuju masjid dengan pikiran yang semrawut, kusut, kumal dan ruwet.. Pikiran tentang masa laluku.

 

Dalam sujud sholat subuhku, aku merasa kepalaku susah diangkat dan aku terus  berusaha  untuk melakukan atahiyyat akhir. Tapi kepalaku benar-benar sulit digerakkan sepertinya oksigen mulai berkurang di otakku  dan aku akhirnya tidak sadarkan diri. Aku hanya merasa kelam. Gelap. Semua gelap.

 

 

=tamat=

Posting Komentar

0 Komentar