Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Ayahku Guru yang Jurnalis

 


Aku dilahirkan lima puluh tahun silam di sebuah kampung di sudut kota Yogyakarta tepatnya di daerah kecamatan Kraton yang kata orang aku termasuk orang “jeron beteng”. Karena kampung itu masuk dalam area Kraton Kasultanan Yogyakarta.  Kampung dimana banyak penduduknya sebagai abdi dalem kagungan dalem Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Kakekku adalah seorang abdi dalem Kraton yang bergelar Raden Mas Bekel Burjonarpodo.

Ayahku adalah salah satu putra beliau dengan dua bersaudara dan ayahku adalah anak yang paling bontot.

Pernah suatu ketika ayah berkeinginan akan menjadi seorang polisi, tetapi oleh kakek ditentang habis-habisan. Karena pada saat itu citra polisi tidaklah baik dimata rakyatnya. Namun aku tidak tahu kenapa kakek melarang ayahku pada saat itu ingin mengabdikan dirinya menjadi polisi tidak boleh. “ Aku nglarang kowe ojo dadi polisi, titik” kata kakek. “ Nek kowe arep ngeyel yo terserah, aku ora tanggungjawab, sak karepmu nek mbok arep terus terusno”

Ayah memang orang yang tidak berani membantah apa kemauan orang tua. Dia adalah orang yang sangat menghormati orangtuanya. Dan tidak pernah sedikitpun berani menentang apa yang diinginkan orangtuanya.

Kakek memang terkenal orang yang otoriter , penanaman kedislipinan selalu ia tegakkan dalam keluarga. Namun sangat penyayang terhadap cucu-cucunya.


Tidak Diizinkan Menjadi Polisi

Tidak diijinkan menjadi polisi akhirnya ayah meneruskan studinya di SGB atau Sekolah Guru , yang akhirnya ayah lulus kemudian langsung ditempatkan di SD Gari Wonosari Gunungkidul , pada tahun 1959. Betapa jauhnya dan sangatlah sunyi kal tahun itu. Transportasi ditempuh hanya dengan sepeda. Namun itupun hanya seminggu sekali. Ayah ngekos pada saat itu , seminggu sekali ia tempuh dengan naik sepeda.

Jam 3 didi hari pun ia lakoni untuk menempuh perjalanan dengan sepeda dari Jogia ke Wonosari. Pernah suatu ketika ayah bercerita pada anak-anaknya tentang pengalaman horornya ketika melewati “irung petruk”, sebutan sebuah tempat yang kala itu jalannya seperti membetuk hidung seorang ounakawan dalam cerita perwayangan “ tokoh petruk “ yang hidungnya mancung banget.

“Le, nduk..bapak mbiyen jam papat wis tekan irung petruk, sak klebat kok ono mbak-mbak rambute dowo, arep mboceng aku”, kata ayah. “ Lah isih peteng ndedet ora ono wong liyo  yo aku meskke terus tak boncengke”. “Terus gimana yah, ayah mboncengkan dia” tanyaku.

“ la iyo le..wong bocah wadon mau ketok mesakke, jarene arep melu nunut neng omah cedak alas bunder, omahe kono” lanjut ayah.

Memang orang pada jamannya tidak mempunyai sifat penakut tetapi sebagai mana manusia biasa , pada saat itu ayah merasa agak merinding di tengkuknya.

Dengan kayuh sepeda kok semakin lama semakin berat iay kayuh dan akhirnya sampailah dipingginr alas bunder setelah jembatan sungai Oya.

“Matur nuwun pak, sudah sampai sini saja” kata mbak misterius tadi. “ Wis y ngati ati yo nok” kata ayah. Begitu ucap kata itu hilang misterius entah kemana dan ayah baru menyadari bahwa wanita tersebut peri atau yang terkenal “sundel bolong”, karena langsung hilang di kegelapan malam.

“ Bapak sak kal langsung mlenggong, terus tak genjot pite banter” ayah mengakhiri ceritanya.

Dan masih banyak cerita yang sering diceritakan kepada kami, anak-anaknya. Ini adalah salah satu bentuk kedekatan kami dengan ayah. Dari berbagai perbincangan sampai diskusi masalah sekcil apapun kami selalu hangat dalam perbincangan itu.  Ayah memang orang yang banyak segudang cerita dan tak pernah ia kehabisan bahan untuk diceritakan kepada anak-anaknya.

Semua itu dilakukan ayah karena beliau seorang jurnalis Surat Kabar Harian berbahasa Jawa “Kembang Brajan” (baca Kembang Brayan) dan juga majalah mingguan “ Djoko Lodang” sbagai profesi sampingan selain sebagai guru sekolah dasar. Salah satu berita yang heboh pernah diliput ayah ketika tahuntujuh puluhan terjadi nya perkosaan penjual jamu yang pernah dilakukan oleh anak bangsawan yang terkenal di kota itu. Dan masih banyak lagi liputan yang dilakukan beliau.

Menjadi guru dan seorang jurnalis memang banyak waktu yang tersita utuk keluarganya. Pagi mengajar sore bahkan samapi tidak pulang ke kantor redaksi maupun meliput berita, namun kehangatan terhadap keluarga terus menerus dilakukan ayah.

Pada tahun 1980 ayah sudah pensiun menjadi jurnalis tetapi beliau masih terus menulis di berbagai media terutam media massa berbahasa jawa. Djoko Lodang, Mekarsari dan bahkan Surat Kabar Mingguan “ Minggu Pagi”. Tulisan tulisannya terus menerus dimuat di media tersebut. Cerkak (Cerita Cekak), Roman Sejarah, Jagading Lelembut dan masih banyak lagi tulisan yang enak dibaca dan dinikmati para pembacanya. Aku yang kadang diserahi tugas ayah untuk mengambilkan honor dari tulisan itu, sehingga sekretaris redas\ksi dari majalah mingguan itu sangat hapal dengan aku.

Ayah juga seorang guru yang sangat disegani murid-murid nya. Menurut kesaksian muridnya ayah merupakan guru favorir di masanya. Dimana seluruh murid yang diajar beliau mas ih sangat berkesan dan hormat pada beliau.

Kesan tidak yang mendalam selau diungkapkan murid yang pernah diajarnya ketika dib angku Sekolah Dasar, termasuk aku juga pernah diajar beliau di kelas lima. Begitu mengesankan dan sangat memotivasi muridnya ketika belaiu mengajar dikelas. Kedekatan dengan muridnya sebagai satu bekal untuk mendorong muridnya dalam menguasai materi materi pelajaran yang diajarkan. Itupun aku rasakan ketika aku jadi murid beliau.

Dengan kayuh sepedanya dan semangat yang tinggi dilakoninya bertahun tahun. Bahkan ketika keluarga kami pindah di perumnas Condongcatur tahun 1978 , beliau masih tetap semangat mengajar dengan mengayuh sepedanya yang jaraknya hampir 20 km setiap harinya.

Ayah pensiun menjadi guru tahun 2000, sebuah prestasi telah tercatat guru yang tidak mau menjadi kepala sekolah, dan selalu ditawari menjadi kepala sekolah , namun beliau selalu meolaknya. “ Aku lebih senang bergaul dengan murid-muridku. Aku lebih senang bergumul dengan murid-muridku, Aku lebih senang melihat murid-muridku sukses dan beresan padaku” katanya.

“Kalau jadi kepala sekolah aku tidak bisa leluasa meleihat mereka berkembang denganku, kalu jadi kepala sekolah aku gak bisa dekat dengan murid-muridku”  ayah mengenang itu dan menceritakan itu pada anak-anaknya.

“ Le, nduk, nek sesuk kowe kerjo, kerjo sing temen, ojo njaluk jabatan ning nek ono sing nawari jabatan njupuken, artine kerjo kuwi ojo nggolek jabatan” ayah menasehati kita berempat.

Ayah nemang seorang yang demokratis dan tidak pernah memaksakan anaknya utuk jadi ini, itu. Untuk kuliah di universitas tertentu ataupun memaksakan anaknya untuk menjadi profesi tertentu. Namun belaiau selalu berpesan “ Le  lan nduk, sesuk nek kowe gede dadio wong sing iso sekolah. Paling ora iso sekolah ngluwihi aku” ini pesan ayah.

Benar kata ayah ini, keempat putra putri beliau semua bisa menyelesaikan sekolahnya bahkan lebih tinggi dari beliau yang hanya lulusan setingkat SLTA.

Aku dan adikku paling ragil lulusan IAIN Sunan Kalijaga, Adikku nomor dua dan tiga lulus dari Universitas Gajahmada. Dengan keterbatasan penghasilah sebagai seorang guru namun bisa membiayai kami berempat lulus dari perguruab tinggi. Sebuah pencapaian yang luar biasa saya menilai.

Pada rahun 2001 ayah ditinggal selamanya oleh ibu sabagai pendamping yang setia, namun dengan meninggalnya ibu ayah tidak lantas putus asa tetapi semakin semangat untuk melihat putra putrinya sukses.

Pada tahun 2014 ayah dipanggil menghadap Allah SWT. Setelah bebErapa bulan mengalami sakit. Torehan canda, tawa dan advis yang selalu dibincangan masih sangat terngiang ditelingaku. Semoga Allah SWT menerima jarirah beliau sebagai catatan amal kebaikanny untuk bekal di yaumil qiyamah.

 

===selesai===

Posting Komentar

0 Komentar