Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Doa Pak Karno

 


Hari hari ini hari yang sangat berat bagi para pendidik, Sudah hampir satu tahun masa pandemi ini yang belum tahu entah kapan masa ini akan berakhir. Kesulitan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) semakin membuncah. Tidak hanya dirasakan Karno sebagai pendidik di sebuah madrasah yang notabene madrasah pinggiran. Kesulitan itu pun juga dirasakan Ana sebagai siswa yang sudah mulai jenuh dengan seribu aktifitas dalam jaringan (daring).

 

Karno seorang pendidik yang mempunyai daya juang yang sangat tinggi ditengah pandemi ini. Covid memang tidak mengenal siapa, dimana, kapan akan selalu menyergap siapapun tanpa mengenal usia , pangkat dan jabatan. Siapapun akan dimakannya tanpa pandang bulu. Siapapun akan diserang dan dimanapun bila tidak mengindahkan protokol kesehatan.

 

“Ana sudah mengerjakan Bahasa Inggris belum “ WA pak Karno selaku Walikelas dan Guru Bahasa Inggrisnya. “ Belum Pak, saya males banget mengerjakannya, soalnya terlalu banyak dan semua guru cuma tugas-tugas terus yang diberikan saya capek pak” Ana menjawab dalam WA nya.” Saya sudah jenuh tingkat dewa pak” sahut Ana dalam WA nya. “ Yang sabar ya nak, selalu berdoa agar pandemi ini segera berakhir , kita bisa saling tatap muka lagi” pesan Pak Karno membalas WA nya.

 

Hal serupa memang tidak hanya dialami Ana sendiri hampir seluruh siswa di Indonesia bahkan di dunia mengalami hal yang sama dirasakan Ana. Pak Karno tidak hanya menyapanya. Di Google Classroomnya pun tidak hanya Ana yang belum mengerjakan tugasnya. Hampir semua kelas masih kosong. Belum ada satu siswapun yang mengumpulkan tugas yang dibuatnya. Pak Karno kadang juga merasakan apa yang dirasakan siswa. Dia juga mempunyai anak dirumah juga mempunyai masalah yang sama. Sebagai seorang pendidik dia juga menyadarkan anaknya dirumah untuk membuat tugas yang dibuat gurunya. Kadang terasa jengkel juga terhadap anaknya, namun apa yang bisa dia perbuat hanya memberikan keasadaran untuk mau dan mau mengerjakan tugas yang diberikan gurunya.

 

Masa pademi merupakan masa yang sulit bagi dunia pendidikan khususnya , namun juga masa masa yang berat di alami sektor sektor lain untuk menghadapinya. Selalu terkandung doanya disetiap habis shalat lima waktu agar masa pendemi ini segera berakhir. Hidup normal adalah dambaan semua insan agar semua sektor bisa berjalan normal. “Ya Allah anak anak kami ingin sekolah lagi, roda ekonomi bangsa kami bisa berjalan dengan baik, kasihanilah kami Ya Allah, Corona adalah makhluk-MU jauhkanlah itu dari kami. Kami sudah lelah Ya Rabb, kami ingin hidup normal lagi” inilah doa yang selalu disenandungkan setiap habis shalat lima waktu.

 

Kejenuhan demi kejenuhan sudah banyak menghinggap di seantero negeri ini. Dari Peenguasa sampai pada rakyat jelata. Mereka sangat meresakannya. Mengapa begitu kejamnya makhluk Allah ini. Kesadaran apa yang akan dibuat Allah bagi manusia di dunia ini. “ Kami tidak bisa berbuat banyak untuk mengatasi makhluk-Mu ini Ya Allah” ungkap pak Karno dalam hati.

 

Dunia pendidikan juga sangat terdampak datangnya makhuk Allah yang bernama Corona. “Namun disisi lain ada juga hikmah yang aku dapat dari munculnya makhluk itu, aku bisa membuat berbagai media pembelajaran untuk anak anak , bisa produktif menulis bisa berkebun” Pak Karno menghibur dirinya sendiri.

 

Tetapi pak Karno juga sangat sedih ketika anak anak didiknya jenuh meradang untuk mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Dengan segudang tugas tugas yang diberikan guru. Inilah realita yang dialami Pak Karno dan Ana yang hanya salah satu contoh anak jenuhnya meradang. Tapi apa yang bisa diperbuat pak Karno hanya bisa ngopyak opyak saja namun eksekusinya pada siswa.

 

Dalam hati pak karno ang terus berharap agar makhluk Allah yang menyerang dan menyerbu di seantero bumi ini terus bisa enyaj dari buana Nya. “ Allah Engkau Maha Adil aku berserah diri kepada Mu enyahkan makhluk yang Engkau sebarkan di muka bumi Mu ini untuk kau tarik kembali ke pangkuan-Mu, anak anak kami yang sedang belajar di usianya  sudah jenuh meradang tingkat Dewa ya Allah , Engkau Kuasa atas segala sesuatu. Kun fay a kun , bila Engkau berkehendak pastilah segala sesuatu itu akan terjadai. Dosa apa yang sudah kami perbuat sehingga Engkau hokum kami seperti ini. Anak anak kami sudah jenuh ya Allah kabulkan doa kami , ud ‘uni astajib lakum barang siapa memohon doa kepada Mu pastilah Engkau mengabulkan doa kami”

 

Rintihan doa yang terus menggelayuti Pak Karno menginginkan kenormalan hidup seperti semula. Keinginan yang hampir sama dipanjatkan semua insan di dunia ini. Disaat bersimpuh dalam doa Bu Karno menghampirinya “ Pak  Kenapa samapi bercucuran air mata” tanyanya. “ Ia nih bu…aku sungguh menginginkan kehidupan normal kembali. Kehidupan yang semuanya bisa dinikmati oleh seuruh lapisan masyaratakat. Dunia pendidikan normal kembali dunia ekonomi bisa normal kembali para pedagang para buruh pabrik bisa bekerja seperti semula, tidak banyak PHK karena keadaan ekonomi kita yang amburadul saat diserang makhluk Allah yang sangat tiny” ini” jawabnya lirih. ‘ Sudah lah pak ini sudah hampir shubuh. Ayok kita bersiap siap jamaah ke masjid” ajak isterinya.

 

Keduanya pun beragkat ke masjid dengan tetap mengedepankan protocol kesehatan. Masjidpun juga masih membatasi jamaah. Lagi lagi Pak Karno juga merasa sedih , mengingat pelajaran agama yang diterimanya dulu sudah berubah dan tidak bisa di imlementasikan dalam regulasi bila kita shalat jamaah.

 

“Allahu rabbi Allahu rabbi, astaghfirullahal adzim Ampuni kami ya Allah. Ampuni kami Ya Allah” doa yang selalu tidak lepas dari bibir basah mulut pak Karno (*)

 

Posting Komentar

0 Komentar