Teman sebuah
makna yang luas untuk sebuah persahabatan. Lebih dekat lagi berada disekeliling
kita adalah seorang sahabat. Sahabat
yang baik adalah turut merakan
apa yang dirasakan dan turut merasakan apa yang di derita maupun yang
dibahagiakan. Kedekatan seorang sahabat kadang akan melebihi dengan kedekatan
dengan saudara-saudara. Rasa sedih dan rasa senang kadang terbagi diantara dua
sahabat.
Sebut saja
seorang sahabat ku bernama Ranto, ia sanga merupakan seseorang yang menurut
pandanganku seorang yang optimistis dan
tidak pernah mengeluh apa yang dirasakan
ketika ia mendapatkan satu ujian dari Allah SWT. Ranto bukan dari keluarga yang
berada ia berasal dari keluarga yang sederhana dan sangat taat terhadap agama.
Ujian yang kadang menerpa didirinya akan bisa dipecahkan sendiri tanpa melibatkan
siapapun yang ia dekat dengannya. Ranto adalah seorang pejuang yang pantang
menyerah. Ia adalah seorang yang luar biasa.
Pada tahun 1990 ia menikah dengan seorang wanita asal
kota Semarang. Dimana wanita yang dinikahinya termasuk keluarga yang berada.
Perjuangan mendapatkan wanita itu tidaklah mudah. Ia megalahkan banyak
rivalnya, maklum wanita itu tergolong
wanita yang parasnya cukuplah membuat lelaki ingin memilikinya. Dengan
perjuangan yang luar biasa dengan mengandalkan laku tirakat selalu mendekatkan
diri kepada sang Khalik. Shalat malamnya tidaklah pernah ia tinggalkan dan ditambah dengan Dhuhanya
sangat kenceng ia jalani. Laku tirakat untuk taqarub kepada ilahi inilah yang
menyebabkan ia kuat secara mental maupun psikologisnya dalam menghadapi
berbagai tantangan yang ada di dunia ini.
Selang bebarapa tahun kemudian kira kira di tahun 1991 Ranto dikarunia putra
laki laki yang sangat tampan. Ketampanannya melebihi bapaknya, Betapa
bergembiranya keluarga itu dengan hadirnya Zafran putra pertamanya. Dua tahun
kemudian isterinya melahirkan anak kedua seorang putri yang mungil nan cantik.
Prasasti putri cantiknya di beri kan sebuah nama Rasyidah yang diharapkan
menjadi wanita yang mulia. Memang sudah lengkaplan Ranto dikarunia dua orang
anak. Zafran sebagai lelaki yang ganteng dan Rasyida sebagai putri yang cantik.
Kedua anaknya semakin hari semakin tumbuh dewasa. Isterinya yang bernama Kamila
sangat menyayangi suami dan anak-anaknya. Kamila memang isteri yang cerdas dan
luar biasa dalam membangun mahligai rumah tangganya. Dia termasuk wanita yang
terampil dalam segala hal. Kamila seorang wanita lulusan perguruan tinggi
terkenal di Semarang. Ia menyelesaikan pendidikaanya hanya dalam waktu yang
singkat sehingga ia lulus dengan “cumlaude”.
Namun ia tidak mencari pekerjaan dengan kesarjanaannya , dia abdikan dan
darma baktikan dirinya untuk mengurus suami dan anak anaknya. Begitu mulianya
hati Kamila, ia memang wanita yang
shalihah. Ini menurut kacamata saya. Ia tidak silau dengan glamornya
kehidupan dunia. Kamila sangat taat dan patuh terhadap suaminya. Saya
menyaksikan sendiri betapa ia memperlakukan suaminya.
Tidak terasa
waktu berjalan terus hingga kedua anaknya tumbuh dewasa . Zafran menyeesaikan
SMA nya di tahun 2011 dan Rasyida di tahun 2013. Kedua anak Ranto adalah
tergolong anak yang kampiun ia selesaikan dengan nilai yang tinggi. Sehingga
keduanyapun diterima di perguruan tinggi
terkenal di Yogyakarta. Zafran melanjutkan di Farmasi dan Rasyidapun juga di
terima di jurusan yang sama. Kedua anak Ranto ini mempunyai bakat dan minat
yang sama. Ranto sebagai ayah selalu mendorong kedua anaknya dan membebaskan
keduanya sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya, Ia tidak pernah
memaksakan kehendaknya serta mengarahkan kemana ia akan melanjutkan kuliahnya.
Wujud demokratisnya di implementasikan dalam kehidupan keluarganya.
Kedua anaknya
semua lulus dengan predikat cumlaude. Dan keduanya pun melanjutkan studinya di
Fakutas dan jurusan yang sama untuk menempuh S2. Dan sekali lagi Ranto terus
memotivasi serta mendorong kedua anaknya untuk terus menempuh pendidikan yang
lebih tinggi sesuai keinginannya tanpa ia mengarahkan keduanya agar melanjutkan
kuliahnya lagi.
Lagi-lagi S2 nya
mereka selesaikan dengan cepat dan mendapatkan predikat cumlaude. Keduanya pun
juga langsung mendapatkan tawaran menjadi dosen di almamaternya. Namun Rasyida
memilih menjadi dosen disebuah perguruan tinggi terkenal di Bandung.
Sebuah
keberhasilan dalam mengantarkan kedua anaknya menjadi orang yang bermanfaat
bagi insan adalah sebuah kebanggaan darinya. Ini adalah buah dari hasil laku
tirakat yang ia lakukan tanpa henti-hentinya dan kontinyu. Laku tirakat untuk
selalu mendapatkan yang terbaik memang tidak diniatkan untuk keberhasilan keluarganya
namun diniatkan lillahi ta ala. Niat hanya di gantungkan kepada Allah SWT, dan
efeknya adalah merembet ke kehidupan keluarganya.
Ranto tinggal
menunggu masa tuanya. Dimana ia sekarang hanya hidup bersama isteri tercintanya
Kamila. Namun di masa tuanya inilah Ranto di uji oleh Allah SWT. Isterinya
menderita stroke sehingga ia harus berbaring di tempat tidur. Ujian ini memang sangat
berat baginya , tetapi ia selalu ingat apa yang ada di dalam Al Quran “Laa
yukalifullahu nafsan illa wus’aha” (Allah tidak akan memberikan cobaah .kalau
hambanya tidak mampu menjalani cobaan itu). Dan ini sangat diyakininya. Dengan
penuh ketulusan ia rawat isterinya, ia layani isterinya dengan penuh kasih dan
saying seperti ketika ia jatuh cinta pertama kalinya.
“Mau dibuatkan
apa bunda?” sapaan lembut setiap harinya. Ini dilakukannya setiap harinya. “
Mau pipis bunda”? Sebentar saya ambilkan
pispot ya” terus menerus tanpa keluh kesah yang ia rasakan namun terus semangat
untuk merawat isterinya dan dirumah hanya tinggal berdua saja karena anaknya
sudah punya rumah sendiri walaupun belum berkeluarga.
“Kringg…kringg…”
ponsel ku berbunya. Aku bergegas menghampiri menghampiri ponselku yang aku
letakkan di ruang kerja. Aku lihat dalam foto profilnya ternyata yang menelpon
adalah Ranto sahabat yang tidak pernah
mengeluh sedikitpun bila ia dirundung kesedihan. “ Assalamu’alaikum….Khamim” Ranto
membuka percakapan. “Wa’alaikumusslam …heeee Rantooo apa kabar , lamo tidak bersuo…, kataku dlam
bahasa Minang. Walaupun Ranto sendiri bukan orang Minang. “ Alhamdulillah baik
..baik, keluarga kami baik baik aja” sahutnya.
“Bagaimana
keadaan Kamila, sudah semakin sehat kan “ tanyaku basa basi. Sebetulnya aku
sudah tahu dari tetangganya kalau Kamila belum begitu membaik bahkan belum ada
perkembangan progress sakitnya. “ Alhamdulillah , semakin membaik namun harus
penuh ketelatenan untuk melayaninya” kata Ranto. “ Syukurlah semoga Allah
segera ringankan sakitnya dan segera sembuhkan sakitnya…” sahutku.
Tanpa terasa
kami bercakap cakap melalui ponsel hampir setengah jam. Dan inipun tidak muncul
sedikitpun curhatan dari Ranto kepadaku. Sebetulnya Ranto bila ia biasa
mencurahkan hati dan perasaan yang sekarang di rasakannya pasti akan sedikit
entenglah beban pikirannya, Namun hal itu tidak ia lakukan. Ia sangat “teteg” (kuat hati ) dalam menghadapi segala cobaan dan kesedihan yang di
deritanya.
Menanti curhatan
Ranto hanyalah sebuah penantian. Ia tidak akan bisa menumpahkan curahan hatinya
kepada siapapun. Ia sangat bisa mengatasi permaslahannya sendiri. Kesedihan dan
kegembiraan hanyalah Ranto lakukan sendiri. Ranto tidak bisa curhat kepada
siapapun kecuali kepada Allah SWT sang Khalik yang sudah menciptakan manusia
dimuka bumi ini.
Kehidupan manis
getirnya di muka bumi ini hanyalah isa rasakan sendiri. Tak ada problematika
yang dapat menyelesaian serumit persoalan yang dia hadapi. Aku sebagai temanpun
hanya bisa menantikan perasaannya. Penantian itu pun tak bisa aku rasakan
sederita yang Ranto alami.
Kesabaran Ranto
tiada duanya. Kesedihan demi kesedihan yang dilakoninya hanyalah sebuah lauapan
emosi jiwanya yang terangkum dirinya sendiri.
Diakhir telpon
pun taka da kesdihan dialami Ranto, hanya luapan kegembiraannya saja yang di
ungkapkan. Aku hanya bisa menebak saja bagaimananpun kesedihan yang dialami
ungkapan kegembiran yang muncul didalam pembicaraan. Penantian curhatan
kesedihan tidaka akan pernah muncul ketika kita sudah berhadapan dengan Ranto.
Apapun yang dia ungkapkan hanyalah rasa gembira sebagai hamba yang dalam
batinnya menderita. Inilah potret kehidupan seseorang yang kita tidak tahu.
Potret kehidupan itupun tidak akan menjadikan kita untuk mengkorek apa yang
sebetulnya kita tidak perlu harus mengetahuinya dari Ranto.
Sikap “tetegnya”
mengarungi hidup patutlah menjadi contoh gambaran kita dalam menerima apapun
cobaan dari Allah SWT. Cobaan hidup yang seharusnya dialami tak perlu
diceritakan kepada siapapun. Cobaan hidup Ranto tak seharusnya di ceritakan
kepada siapapun bahkan kepada sahabat yang paling dekat. Biarlah Ranto yang
mengalaminya tanpa oranglain mengetahui dari dirinya sendiri.
Saya pun tidak
menginginkan Ranto untuk curhat apa yang dialaminya. Di akhir pembicaraan
telponnya ia telponnya pun tidak menampakkan kesedihan yang sedang dialaminya.
Dia hanya menceritakan keberhasilan mendidik putra putrinya.
“Sudah dulu ya
friend…besok kita sambung lagi. Terimakasih sudah berbagi cerita hari ini saya
sangat senang bisa menelpon mu hari ini.
Dan maaf mengganggu waktumu ber weekend ria ya friend” di akhir
telponnya Ranto.
“Ah Ranto, nggak
mengganggu kok , aku malah senang kau bisa menelpon hari ini. Aku memang nggak
ber week end ria kok” jawabku. “ Aku malah merasa berbahagia kau bisa
bersambung ria , kau bisa cerita banyak tentang putra putrimu, salam buat
mereka ya, dan salam juga buat Kamila istermu” akhir telponku.
Ketika aku
menyebutkan Kamila isterinya Ranto terdiam seribu bahasa, namun aku sudah tahu
betapa berat kondisi Kamila pada saat itu. Namun aku hanya pura pura tidak tahu
kalau Kamila sakit berat.
“Ok friend
terimakasih, terimakasih …”, jawab Ranto sambil agak terbata-bata mengakhiri
telponnya.
Inilah satu sisi
kehidupan yang harus dialami Ranto seorang lelaki yang patut dacungi jempol.
Lelaki yang tetap setia meraway isterinya yang menederita sakit stroke tidak
bisa apa apa. Semuanya harus ia layani. Namun disaat kesedihan yang dia alami
tidak ada sedikitpun rasa penyesalan sudah menikahi Kamila isteri yang sudah
mendampinginya puluhan tahun.
Seluruh jiwa dan
raganya ia korbankan untuk meladeni isteriya. Seluruh waktunya ia darma
baktikan untuk merawat isterinya. Taka da kata lelah taka da kata resah dan
taka da pikiran sedikitpun untuk tidak meninggalkan isteriya. Lelahnya karena
lillah. Ia menikahinya lahir dan batin. Senang di petik bersama susah dipetik
bersama ia hanya mencari surge lantaran isterinya.
Dan taka da
penantian curhatan Ranto yang ia derita. (*)


0 Komentar